Dalam blog ini, saya akan memberikan opini tentang masalah-maslah sosial yang ada di Indonesia.
Artikel ini saya dapat dari sumber liputan6.com
1. Peran besar pemerintah dalam menghadapi masalah sosial.
Kemiskinan merupakan akar dari semua masalah sosial. Maka, dibutuhkan seperangkat program dan kegiatan yang mengarah pada upaya pengentasan dalam satu nafas dan satu visi.
"Berbagai masalah sosial manjadi pekerjaan rumah pemerintah yang membutuhkan perjuangan dan dukungan semua pihak terkait demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat." kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dalam acara, Sinergi Program Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial di Jakarta, Rabu (26/11/2014).
Saat ini, Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) relatif masih tinggi. Pada saat bersamaan, kemampuan pemerintah untuk menyelesaikan PMKS relatif rendah.
PMKS harus diatasi dalam waktu tidak terlalu lama. Untuk itu, harus segera menetapkan fokus sasaran, sehingga bisa menjadi solusi dalam penanganan masalah sosial lainnya, ujarnya.
Berbagai masalah sosial tersebut, di antaranya kebencanaan, ketunaan, keterlantaran, kecacatan, keterpencilan, kekerasan dan eksploitasi, yang membutuhkan sentuhan penanganan di tengah isu global terkait dengan kemiskinan.
Kejelian dan data membaca realitas di lapangan menjadi sebuah keniscayaan. Hal itu, tentu saja bisa membantu untuk menentukan keberhasilan implementasi berbagia program dan kegiatan.
Berbagai program dianggap berhasil, jika dalam pelaksanaannya bisa dilihat, dihitung, dilaksanakan, serta bsia dipertanggungjawabkan, tegas Mensos.
Peran dari dinas sosial (Dinsos), sebagai mitra strategis di lapangan perlu keterpaduan tindakan, menggunakan parameter yang sahih untuk mengukur dan menetapkan sasaran.
Kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah terkait penyelenggaraan kesejateraan sosial (kesos) tidak semata bicara dana dekonsentrasi maupun tugas pembantuan. Tetapi, yang terpenting adalah menetapkan strategi implementasi platform penyelenggaraan kesos.
Juga, diharapkan kerja sama pusat dan daerah bisa membangun pemahaman, kerangka tindakan yang terukur dan terarah. Misalnya, implementasi KIP, KIS, KKS, KSKS, PSKS agar dimengerti sebagai langkah penting untuk menopang stabilitas ekonomi keluarga di tengah pengurangan subsidi BBM dan fluktuasi harga.
Penanganan masalah sosial ada prosedur standar pelaksanaan yang mengacu pada tipologi, geografi, serta budaya masyarakat,katanya.
(pendapat saya: indonesia dulu juga sama miskin nya dengan negara korea dan singapura. mereka sama-sama berkembang seperti kita. ada 4 penyebab general trajectory.
SATU : Intelektualitas bangsa kita lemah. Tidak mampu berpikir panjang, semua mau ambil untung hari ini. Alias rabun jauh, bangsa kita penderita myopia. Semua ambil untung hari ini, makanya saya benci setengah mati sama rent-seekers yang merusak tanpa mereka sadari ( atau mereka sadari) pembangunan.
Pengajaran critical thinking kita lemah sekali. Ya repot, ada orang berpikir bebas, langsung dihantam sebagai orang liberal. Susah
KEDUA: Kenapa Taiwan dan juga Korea Selatan "tiba-tiba" maju pesat?! Salah satu penjelasannya adalah mereka menghadapi apa yang disebut Dan Slater sebagai systemic vulnerability. Korea Selatan khawatir terhadap nuklir Korut, ancaman Cina dan juga Jepang, karena itu tidak ada pilihan selain harus maju, kerja keras, dan disiplin. Taiwan juga berada dalam situasi dan ancaman yang konstan dari Cina. Indonesia ini nggak punya systemic vulnerability, makanya tidak pernah punya sense of urgency. Lagu yang populer buat meninabobokan kita adalah "bukan lautan hanya kolam susu.... tongkat kayu dan batu jadi tanaman".
KETIGA: kita sangat inward looking yang parah, merasa diri negara besar, nasionalisme berlebihan seolah-olah negara lain maunya mencaplok kita lalu akibatnya selalu anti asing. Tempo hari, waktu pulang dari Beijing di pesawat saya nonton film dokumenter tentang Lee Kuan Yew. Buat orang Singapura, dia orang nasionalis dan patriot nomer satu. Siapa yang bantah? Tapi orang kayak dia di Indonesia akan dihujat sebagai budak asing atau neolib, menjual negara pada asing, kalau perlu dibilang darahnya halal.
Kenapa?
Karena: Lee Kuan Yee membawa Singapura merdeka dari Inggris untuk self-governance tahun 1959. Tapi, perseteruannya dengan kelompok komunis di partainya meruncing memaksa Lee Kuan Yew minta sebuah referendum dan dia kampanye habis-habisan.
Referendum untuk apa? Lee Kuan Yew berkampanye bahwa Singapura akan lebih sejahtera kalau bergabung dengan Malaysia! Dia kampanye habis-habisan ke kampung-kampung di Singapura ( waktu itu Singapura ya kayak kita kampung-kampung becek), untuk minta persetujuan rakyat Singapura untuk secara sukarela gabung dengan Malaysia. Orang kayak begini di Indonesia, di Indonesia akan diapakan? Dihujat ramai-ramai sebagai tidak nasionalis. Darahnya halal.
Tapi Lee Kuan Yew justru sedang mengkespresikan cintanya pada negaranya. Visinya jauh. Dia menang referendum, Lee Kuan Yew sendiri yang pidato di depan parlemen Malaysia "menyerahkan diri" tahun 1961. Tahun 1963 pecah kerusuhan rasial anti Cina di Malaysia yang membuat Lee kecewa dan memutuskan Singapura keluar dari federasi Malaysia. Ada rekamannya dia pidato berbahasa Melayu (yang dia pelajari dalam 8 bulan) yang memukau di depan parlemen Malaysia menyatakan kekecewaannya. Lalu dia pulang ke Singapura, bikin konferensi pers sambil keluar air matanya, menyatakan bahwa "now we are on our own". Lalu dia pidato di kampung yang becek (dia orator yang dahsyat), sambil menunjuk tanah saya ingat betul kata-katanya: "We will build Singapore on this mud flat, from scratch. Ten years from now Singapore will be a metropolitant."
Begitulah. Kalau dia orang Indonesia, Lee Kuan Yew tidak akan jadi tokoh besar karena akan dikeroyok ramai-ramai, neolib, penjual tanah air. Padahal, yang paling sering ngomong nasionalisme, saya amati adalah mereka yang paling merasa terancam kalau ada persaingan dan keterbukaan. Akibatnya, bertindak ngakunya atas nama rakyat, padahal sedang mencelakakan rakyat, menghambat kemajuan.
KEEMPAT: kita ini bangsa yang senang sweat the small things. Urusan cemen dijadikan besar, urusan besar dijadikan kecil. Prioritas terbalik-balik, makanya nggak maju-maju. Negara lain bangun sains dan teknologi, kita masih ribut nanya apakah sebaiknya shalat subuh baca doa qunut atau tidak.)
Sumber : Fb @pjvermonte dan liputan6.com
Komentar
Posting Komentar